Sabtu, 3 April 2021, Unit Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Institut Al Hikmah Tuban mengadakan seminar gender dengan tema “ Mitos Kecantikan dan Eksploitasi Perempuan”. Seminar kali ini diadakan secara offline bertempat di Aula Lantai 3 Kampus IAI Al Hikmah Tuban. Dimulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB. Ini adalah event pertama yang diadakan unit PSGA IAI Al Hikmah Tuban pada periode kedua. Seminar ini diikuti oleh kurang lebih 120 peserta seminar. Dihadiri oleh undangan yang berasal dari Perguruan Tinggi di Tuban dan Bojonegoro, aktivis LSM Tuban dan Bojonegoro, PC dan PAC Muslimat- Fatayat wilayah Tuban dan Bojonegoro, PAC Anshor Wilayah Tuban Selatan, dan dari ormas ‘Aisyiyah maupun Pemuda Muhammadiyah yang tersebar di wilayah Tuban dan Bojonegoro.

PSGA IAI Al Hikmah sebagai pusat kajian yang concern di bidang gender dan anak turut menyikapi problematika terkait perempuan dan anak. Dalam kesempatan ini seminar difokuskan pada kajian gender. Berbagai masalah perempuan yang terjadi misalnya budaya patriarki, diskriminasi dan bahkan eksploitasi perlu mendapatkan perhatian khusus. Adapun tujuan dari diadakannya seminar ini adalah untuk menjawab isu-isu tentang mitos kecantikan serta bentuk ketidakadilan gender seperti eksploitasi perempuan. “melalui seminar ini diharapkan masyarakat menjadi lebih bijak dalam mendefinisikan kata cantik. Bahwa cantik bukanlah hanya sekedar ukuran fisik. Tapi bagaimana kita berempati kepada yang lain itu menjadi lebih bermakna. Bahwa eksploitasi kodrat fisik perempuan bukanlah objek eksploitasi. Jadi eksploitasi perempuan bukan suatu kebenaran”, kata Vita Fitriatul Ulya, Ketua PSGA IAI AL Hikmah Tuban.

Lebih lanjut, dalam sambutannya, Rektor IAI Al Hikmah Tuban Ibu Hj. Nurotun Mumtahanah mengatakan bahwa output kegiatan seminar ini diharapkan akan menambah wawasan secara holistic bagi akademisi di Perguruan Tinggi khususnya, sehingga dapat dilanjutkan dengan penelitian-penelitian, mengembangkan topik-topik penelitian gender, melahirkan konsep baru, memiliki gagasan-gagasan baru serta penulisan karya ilmiah dalam bentuk apapun yang pada akhirnya akan menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat pada umumnya. “Kami dari pimpinan IAI Al Hikmah Tuban mensupport adanya kegiatan seminar ini, semoga ke depannya PSGA IAI Al Hikmah Tuban akan lebih eksis menjadi wadah yang memberikan perhatian pada permaslahan gender dan anak”. Imbuh rektor IAI Al Hikmah Tuban tersebut.

Seminar ini mendatangkan pakar gender dari UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Mufidah Cholil, M.Ag. Guru Besar Bidang Sosiologi Hukum Islam UIN Malang. Gelar professor berhasil diperoleh melalui penelitian beliau dengan judul “Kesetaraan gender dalam hukum keluarga Islam; memutus mata rantai kekerasan domestik meraih kesakinahan”. Dalam pemaparannya beliau menjelaskan secara gamblang tentang makna cantik ditinjau dari segi agama, budaya, politik, ekonomi/kapitalis dan Pendidikan. Kesalahan memaknai tubuh perempuan mengakibatkan munculnya budaya patriarki yang menempatkan perempuan sebagai stereotype dan berpotensi terjadinya komersialisasi kecantikan yang dapat menyebabkan adanya eksploitasi. Kegiatan seminar berjalan dengan semarak ditandai dengan antusiasme para peserta seminar dalam sesi diskusi.

Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan FGD (Focus Group Discussion) dengan tema “peta penelitian gender di PTKIS yang berbasis Pesantren” yang diikuti oleh dosen IAI Al Hikmah Tuban. “Gender itu bisa masuk dimana saja, bisa menjadi warna apa saja, PSGA tidak berdiri sendiri, ia berada dibawah struktur LPPM, jadi antara LPPM dan PSGA harus berjalan beriringan” ungkap Prof. Mufidah. “semua bidang keilmuan bisa meneliti tentang gender, tinggal mengkorelasikan konsep gender tersebut sesuai dengan masing-masing keilmuan. Dalam penelitian gender harus jelas dalam pembuatan  kerangka dan metode penelitian yang perspektif gender.” tutur beliau lebih lanjut. Selain itu untuk menjaga eksistensi PSGA perlu adanya base line untuk memetakan pengaruh kesetaraan gender di Perguruan Tinggi IAI Al Hikmah, mengadakan jejaring dengan Perguruan Tinggi lain yang memiliki unit PSGA, kerjasama dengan aktivis-aktivis di lapangan dengan tetap sebagai akademisi namun memiliki keunikan tersendiri. Di akhir sesi FGD, ketua senat IAI Al Hikmah, Dr. Mujib Ridlwan, S.Ag., MA., M.Si mengharapkan agar Unit PSGA IAI Al Hikmah tidak mati suri, artinya setelah kegiatan seminar dan FGD ini masih akan ada kegiatan lanjutan khususnya pada bidang penelitian gender dan pengabdian masyarakat perspektif gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *